<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom"><id>tag:imamhidayat.blog.co.uk,2009-11-11:/</id><title>Imam's blog</title><link rel="self" href="http://imamhidayat.blog.co.uk/feed/atom/posts/"/><link rel="alternate" type="text/html" href="http://Imamhidayat.blog.co.uk/"/><generator version="1.0">MokoFeed</generator><updated>2009-11-11T19:05:16+01:00</updated><entry><id>tag:imamhidayat.blog.co.uk,2007-09-11:/2007/09/11/tak_kenal_tak_sayang~2960062/</id><title>Tak kenal, tak sayang ?</title><link rel="alternate" type="text/html" href="http://Imamhidayat.blog.co.uk/2007/09/11/tak_kenal_tak_sayang~2960062/"/><author><name>blabard</name></author><published>2007-09-11T07:42:45+02:00</published><updated>2007-09-11T07:42:45+02:00</updated><content type="html">	&lt;p&gt;Dalam sebuah kesempatan Nabi saw bersabda:&lt;br&gt;
“Barang siapa yang tidak menyayangi, maka tidak disayangi.” (HR. Bukhari, Muslim, dll. dari Abu Hurairah).&lt;br&gt;
Latar belakang (asbab al-wurud) dari hadis yang terdapat di dalam Shahih al-Bukhari, Juz IV, h. 51 dan 53; Shahih Muslim, Juz IV, h. 1808-1809; Sunan al-Turmudzi, Juz III, h.212; dan Musnad Ahmad, Jilid II, h. 228 dan 241 ini adalah pada suatu ketika, Nabi Saw. mencium cucu beliau yang bernama Hasan bin ‘Ali.&lt;br&gt;
Pada saat itu, salah seorang sahabat Nabi bernama al-Aqra’ bin Habis al-Tamimi duduk di samping Nabi. Melihat Nabi saw mencium cucu beliau itu, al-Aqra’ berkata:&lt;br&gt;
“Ya Rasulullah, saya ini mempunyai anak sepuluh orang, tetapi tidak ada seorang pun yang pernah saya cium.”&lt;br&gt;
Sambil memperhatikan al-Iqra’, Nabi lalu bersabda sebagaimana hadis di atas.&lt;br&gt;
Secara tekstual, hadits Nabi saw tersebut mengandung petunjuk yang bersifat universal. Ketentuan yang dikemukakan oleh Nabi itu, menurut Prof. Dr. H.M. Syhudi Ismail (1994: 56), berlaku tanpa batasan waktu dan tempat.&lt;br&gt;
Dengan demikian, sebagaimana dialami al-Iqra’, barang siapa yang tidak menyayangi (dalam hadits ini diekspresikan melalui ciuman) maka jangan pernah berharap untuk mendapatkan rasa sayang itu.&lt;br&gt;
Dalam hadis lain Rasulullah saw bersabda:&lt;br&gt;
“Berkasihsayanglah di antara kamu, maka Yang Memiliki Kasing Sayang (Allah) akan mengasihsayangimu.” (HR. Bukhari dan Muslim).&lt;br&gt;
Hadits lain menyebutkan:&lt;br&gt;
“Sayangilah orang-orang di muka bumi, maka yang di langit (Allah) akan menyanyangimu.” (HR. Bukhari dan Muslim)&lt;br&gt;
Dari dua hadis di atas tampak bahwa kasih sayang Allah kepada manusia tidak diberikan secara gratis. Ada syarat-syarat yang dapat dilakukan seseorang, di antaranya dengan memberikan dan menampakkan kasih sayang kepada sesama manusia.&lt;br&gt;
Terkait dengan momentum masyarakat Indonesia yang tengah menapaki tatanan masyarakat baru yang modern dan berperadaban, maka masalah cinta kasih dan saling sayang menjadi hal yang sangat penting.&lt;br&gt;
Upaya dan usaha menyebarkan cinta dan kasih sayang sesama manusia dalam ajaran Islam  diwujudkan dalam perintah bersilaturrahmi, artinya menyambung persaudaraan.&lt;br&gt;
Ini merupakan wujud perilaku yang membedakan antara keislaman dan kekafiran. Islam menganjurkan manusia menyambuh silaturrahmi, sedang kekafiran memerintahkan untuk memutuskannya.&lt;br&gt;
Seperti halnya tubuh kita yang bersifat biologis yang membutuhkan nutrisi, ruhaniah atau spiritual kita juga membutuhkan nutrisi atau gizi untuk kelangsungan hidupnya.&lt;br&gt;
Adapun bentuk-bentuk nutrisi ruhani adalah ibadah-ibadah dalam Islam yang bertujuan meningkatklan derajat ketaqwaan seseorang. Salah satunya melalui sikap menyayangi terhadap sesama sebagai bentuk pemaknaan dan internalisasi terhadap sifat-sifat Tuhan yan paling istimewa yakni kasih.&lt;br&gt;
Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam QS. Al-An’am/6:12: “Ia telah menentukan dalam Diri-Nya sifat kasih sayang.  Wallahu a’lam. []&lt;/p&gt;
&lt;p&gt; &lt;small&gt; &lt;a href="http://Imamhidayat.blog.co.uk/2007/09/11/tak_kenal_tak_sayang~2960062/#comments"&gt;Comments&lt;/a&gt; &lt;/small&gt; &lt;/p&gt;</content></entry></feed>
